PaluPos.Com

Berita

 Breaking News
  • Belanda Mendadak Setop Pakai Facebook, Ini Alasannya Pemerintah Belanda mengumumkan pihaknya tidak akan menggunakan Facebook lagi di masa depan. Mereka beralasan tujuannya untuk keamanan masyarakatnya. Sebelumnya, Kementerian Dalam Negeri setempat pernah meminta Otoritas Perlindungan Data Belanda (DPA)...
  • Produk Tembakau yang Dipanaskan Minim Digunakan oleh Remaja di Negara-negara Maju Penggunaan produk tembakau alternatif oleh remaja di bawah usia 18 tahun menjadi keprihatinan para pemangku kepentingan. Ternyata, ada fakta menarik yang menunjukkan bahwa produk tembakau yang dipanaskan minim digunakan oleh...
  • Ketahui 5 Perbedaan Label Kadaluwarsa Kemasan Makanan Menjelang hari Lebaran, ada berbagai diskon yang digelar gerai-gerai belanja. Salah satu item yang cukup banyak didiskon adalah makanan-makanan dalam kemasan di supermarket. Jangan asal kalap membelinya ya,  Anda perlu...
  • Jangan Pernah Percaya Haji Tanpa Antre Lamanya waktu menunggu untuk bisa melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci membuat sebagian oknum masya-rakat memanfaatkan masalah ini untuk menawarkan haji ce-pat atau tanpa antre. Haji tanpa antre yang ditawarkan tersebut...
  • Kim Jong Un Menggila, Korut Tembak ‘Serangan Balasan Nuklir’ Korea Utara (Korut) kembali mencari perhatian dunia. Di tengah perang yang berkecambuk di Rusia dan Ukraina serta memenasnya Timur Tengah karena serangan Israel ke Gaza dan konflik Israel-Iran, Pyongyang melakukan...

AS Tuding Intelijen Rusia Retas Kantor Pemerintahan

AS Tuding Intelijen Rusia Retas Kantor Pemerintahan
April 16
10:27 2021

Amerika Serikat [AS] menyebut dinas intelijen Rusia lah dalang di balik peretasan yang dialami negara itu beberapa waktu lalu.

Diketahui, kejadian SolarWinds itu mengakibatkan sembilan lembaga federal ratusan perusahaan swasta yang menjadi korban.

Kecurigaan AS terhadap Rusia sudah ada sejak awal. Di mana AS menduga bahwa Rusia yang menjadi otak serangan. Namun, baru pada Kamis, 15 April 2921, AS keluarkan pernyatakaan tudingan terhadap dinas intelijen Rusia.

Pernyataan Gedung Putih ini juga diikuti dengan pemberian sanksi pada lima perusahaan keamanan siber asal Rusia. Hal ini karena dirasa seluruh perusahaan ikut terlibat dalam operasi serangan siber tersebut, dikutip Reuters, Jumat 16 April 2021.

Transfer Informasi Sensitif ke Negaranya
“Ruang lingkup dan skala kompromi ini dikombinasikan dengan sejarah Rusia yang melakukan operasi siber yang sembrono dan mengganggu menjadikannya menjadi masalah keamanan nasional,” jelas Departemen Keuangan.

FBI dan Cybersecurity Infrastructure Security Agency juga mengungkapkan lembaga intelijen Rusia melakukan eksploitasi pada lima kerentanan software yang diketahui.

Pengumuman hadir dengan sekumpulan link terkait penambahan software oleh perusahaan yang membuat produk. Termasuk didalamnya adalah VMware dan Fortinet.

“Kerentanan yang hari ini dirilis menjadi bagian dari perangkat SVR untuk menargetkan pemerintah dan sektor swasta. Kami perlu mempersulit pekerjaan SVR dengan menyingkirkannya,” kata Direktur NSA untuk keamanan siber, Rob Joyce. (bpc)

Related Articles