PaluPos.Com

Berita

 Breaking News
  • Belanda Mendadak Setop Pakai Facebook, Ini Alasannya Pemerintah Belanda mengumumkan pihaknya tidak akan menggunakan Facebook lagi di masa depan. Mereka beralasan tujuannya untuk keamanan masyarakatnya. Sebelumnya, Kementerian Dalam Negeri setempat pernah meminta Otoritas Perlindungan Data Belanda (DPA)...
  • Produk Tembakau yang Dipanaskan Minim Digunakan oleh Remaja di Negara-negara Maju Penggunaan produk tembakau alternatif oleh remaja di bawah usia 18 tahun menjadi keprihatinan para pemangku kepentingan. Ternyata, ada fakta menarik yang menunjukkan bahwa produk tembakau yang dipanaskan minim digunakan oleh...
  • Ketahui 5 Perbedaan Label Kadaluwarsa Kemasan Makanan Menjelang hari Lebaran, ada berbagai diskon yang digelar gerai-gerai belanja. Salah satu item yang cukup banyak didiskon adalah makanan-makanan dalam kemasan di supermarket. Jangan asal kalap membelinya ya,  Anda perlu...
  • Jangan Pernah Percaya Haji Tanpa Antre Lamanya waktu menunggu untuk bisa melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci membuat sebagian oknum masya-rakat memanfaatkan masalah ini untuk menawarkan haji ce-pat atau tanpa antre. Haji tanpa antre yang ditawarkan tersebut...
  • Kim Jong Un Menggila, Korut Tembak ‘Serangan Balasan Nuklir’ Korea Utara (Korut) kembali mencari perhatian dunia. Di tengah perang yang berkecambuk di Rusia dan Ukraina serta memenasnya Timur Tengah karena serangan Israel ke Gaza dan konflik Israel-Iran, Pyongyang melakukan...

Anggap Menyesatkan, Twitter Hapus 2 Ribu Unggahan Soal COVID-19

Anggap Menyesatkan, Twitter Hapus 2 Ribu Unggahan Soal COVID-19
April 22
06:30 2020

Media sosial Twitter memperbarui kebijakan mengenai informasi virus corona COVID-19 yang beredar. Aplikasi berlogo burung biru itu mewajibkan penggunanya untuk menghapus unggahan yang tidak terverifikasi mengenai virus corona.

Bulan lalu, Twitter telah menghapus lebih dari 2.230 tweet yang dianggap menyesatkan. “Informasi yang dihapus adalah menghasut orang, menyebabkan kepanikan, kerusuhan sosial, atau gangguan skala besar yang meluas,” bunyi pernyataannya seperti dikutip dari laman The Verge, Selasa, 22 April 2020.

Kebijakan itu muncul ketika informasi yang salah mengenai COVID-19 telah menyebar di media sosial yang menghasut orang untuk bertindak gegabah. Misalnya, pembakaran menara telekomunikasi 5G di Inggris karena teori-teori konspirasi palsu yang menghubungkan penyebaran COVID-19 dengan teknologi jaringan internet itu.

Juru bicara Twitter menjelaskan kepada Tech Crunch bahwa penghapusan konten COVID-19 akan diprioritaskan ketika memiliki seruan untuk bertindak yang berpotensi menyebabkan bahaya. “Seperti yang telah kami katakan sebelumnya, kami tidak akan mengambil tindakan penegakan pada setiap tweet yang berisi informasi yang tidak lengkap atau diperdebatkan tentang COVID-19,” pernyataan itu melanjutkan.

Kebijakan tentang konten COVID-19 itu pertama kali diperkenalkan pada 18 Maret lalu. Selain Twitter, perusahaan Facebook, Google, LinkedIn, Microsoft, Reddit, dan YouTube juga bersama-sama berjanji untuk melawan informasi yang salah terkait dengan virus corona pada 16 Maret lalu.

Related Articles