PaluPos.Com

Berita

 Breaking News
  • Belanda Mendadak Setop Pakai Facebook, Ini Alasannya Pemerintah Belanda mengumumkan pihaknya tidak akan menggunakan Facebook lagi di masa depan. Mereka beralasan tujuannya untuk keamanan masyarakatnya. Sebelumnya, Kementerian Dalam Negeri setempat pernah meminta Otoritas Perlindungan Data Belanda (DPA)...
  • Produk Tembakau yang Dipanaskan Minim Digunakan oleh Remaja di Negara-negara Maju Penggunaan produk tembakau alternatif oleh remaja di bawah usia 18 tahun menjadi keprihatinan para pemangku kepentingan. Ternyata, ada fakta menarik yang menunjukkan bahwa produk tembakau yang dipanaskan minim digunakan oleh...
  • Ketahui 5 Perbedaan Label Kadaluwarsa Kemasan Makanan Menjelang hari Lebaran, ada berbagai diskon yang digelar gerai-gerai belanja. Salah satu item yang cukup banyak didiskon adalah makanan-makanan dalam kemasan di supermarket. Jangan asal kalap membelinya ya,  Anda perlu...
  • Jangan Pernah Percaya Haji Tanpa Antre Lamanya waktu menunggu untuk bisa melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci membuat sebagian oknum masya-rakat memanfaatkan masalah ini untuk menawarkan haji ce-pat atau tanpa antre. Haji tanpa antre yang ditawarkan tersebut...
  • Kim Jong Un Menggila, Korut Tembak ‘Serangan Balasan Nuklir’ Korea Utara (Korut) kembali mencari perhatian dunia. Di tengah perang yang berkecambuk di Rusia dan Ukraina serta memenasnya Timur Tengah karena serangan Israel ke Gaza dan konflik Israel-Iran, Pyongyang melakukan...

Hadiri KTT di Filipina, Presiden Jokowi Minta Uni Eropa Segera Hentikan Diskriminasi Sawit

Hadiri KTT di Filipina, Presiden Jokowi Minta Uni Eropa Segera Hentikan Diskriminasi Sawit
November 14
16:28 2017

PALUPOS.COM – Hadir di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) peringatan 40 tahun kerjasama kemitraan ASEAN-Uni Eropa, Presiden Joko Widodo (Jokowi) berbicara keras soal kelapa sawit.

Dia meminta Uni Eropa segera menghentikan sikap diskriminatifnya terhadap kelapa sawit. Sebab kelapa sawit berperan dalam mengentas kemiskinan, mempersempit gap pembangunan, serta pembangunaan ekonomi yang inklusif di Indonesia.

Dalam pertemuan Selasa, 14 November 2017, di Philippine International Convention Center (PICC), Manila, Filipina itu, menurut keterangan tertulis Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden, Bey Machmudin, Selasa (14/11/2017), Presiden Jokowi mengatakan, bahwa saat ini terdapat 17 juta orang Indonesia yang hidupnya, baik langsung maupun tidak langsung, terkait dengan kelapa sawit. Dari areal yang ada, 42% lahan perkebunan kelapa sawit itu dimiliki oleh petani kecil.

Dari realitas itu, maka dalam pidatonya itu Presiden Jokowi meminta agar sikap diskriminasi terhadap kelapa sawit di Uni Eropa segera dihentikan. Sebab sejumlah sikap dan kebijakan itu dianggap merugikan kepentingan ekonomi. Dan itu merusak citra negara produsen sawit, yang juga harus dihilangkan.

“Resolusi Parlemen Uni Eropa dan sejumlah negara Eropa mengenai kelapa sawit dan deforestasi serta berbagai kampanye hitam, tidak saja merugikan kepentingan ekonomi, namun juga merusak citra negara produsen sawit”, kata Jokowi.

Sang Presiden juga mengungkapkan, bahwa Indonesia paham pentingnya isu sustainability. Untuk itu berbagai kebijakan terkait sustainability telah diambil, termasuk pemberlakuan sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO). (jss)

Related Articles