PaluPos.Com

Berita

 Breaking News
  • Belanda Mendadak Setop Pakai Facebook, Ini Alasannya Pemerintah Belanda mengumumkan pihaknya tidak akan menggunakan Facebook lagi di masa depan. Mereka beralasan tujuannya untuk keamanan masyarakatnya. Sebelumnya, Kementerian Dalam Negeri setempat pernah meminta Otoritas Perlindungan Data Belanda (DPA)...
  • Produk Tembakau yang Dipanaskan Minim Digunakan oleh Remaja di Negara-negara Maju Penggunaan produk tembakau alternatif oleh remaja di bawah usia 18 tahun menjadi keprihatinan para pemangku kepentingan. Ternyata, ada fakta menarik yang menunjukkan bahwa produk tembakau yang dipanaskan minim digunakan oleh...
  • Ketahui 5 Perbedaan Label Kadaluwarsa Kemasan Makanan Menjelang hari Lebaran, ada berbagai diskon yang digelar gerai-gerai belanja. Salah satu item yang cukup banyak didiskon adalah makanan-makanan dalam kemasan di supermarket. Jangan asal kalap membelinya ya,  Anda perlu...
  • Jangan Pernah Percaya Haji Tanpa Antre Lamanya waktu menunggu untuk bisa melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci membuat sebagian oknum masya-rakat memanfaatkan masalah ini untuk menawarkan haji ce-pat atau tanpa antre. Haji tanpa antre yang ditawarkan tersebut...
  • Kim Jong Un Menggila, Korut Tembak ‘Serangan Balasan Nuklir’ Korea Utara (Korut) kembali mencari perhatian dunia. Di tengah perang yang berkecambuk di Rusia dan Ukraina serta memenasnya Timur Tengah karena serangan Israel ke Gaza dan konflik Israel-Iran, Pyongyang melakukan...

Empat Penjahat Disuntik Mati di Arkansas

Empat Penjahat Disuntik Mati di Arkansas
April 30
14:58 2017

Empat penjahat disuntik mati. Itu dilakukan Negara Bagian Arkansas, Amerika Serikat (AS) karena mulai kehabisan stok obat bius. Suntik mati dipercepat gara-gara obat untuk ‘membunuh’ mendekati masa kadaluarsa itu menyebabkan eksekusi mati ini diributkan.

Negeri ini mengeksekusi empat narapidana sejak 20 April. Narapidana keempat yang disuntik mati itu adalah Kenneth Williams (38 tahun), pada Kamis 27 April pukul 19.00 waktu setempat di penjara Cummins Unit.

Arkansas sebelumnya berencana mengeksekusi delapan narapidana dalam waktu 11 hari pada bulan April. Ini merupakan jumlah terbanyak di antara negara bagian mana pun. Namun 4 dari delapan hukuman mati itu dihentikan oleh berbagai persidangan di pengadilan.

Pelaksanaan hukuman mati diputuskan karena obat bius yang dimiliki Arkansas untuk eksekusi mati akan habis masa berlakunya pada akhir April. Penentuan itu yang mengundang kecaman bahwa Arkansas bersikap sembrono.

Jadwal eksekusi ini juga memicu pengajuan pertimbangan hukum yang memunculkan pertanyaan soal peraturan hukuman mati di AS. Soal pelaksanaan hukuman mati yang tidak berlangsung lancar, dan kesulitan  mendapatkan obat suntik yang mematikan.

Kuasa hukum Kenneth Williams sendiri sempat mengajukan banding atas putusan pengadilan ini. Mereka beralasan, campuran suntikan mematikan tidak akan bisa digunakan terhadap seseorang dalam kondisi medis yang tak biasa, seperti yang dimiliki Williams.

Kondisi seperti itu, termasuk lupus dan kerusakan otak organik, akan menyebabkan kesakitan dan penderitaan yang tidak dibolehkan secara hukum. Namun pengajuan banding itu ditolak  Mahkamah Agung Arkansas.

Williams mendekam di penjara dan divonis hukuman mati setelah membunuh seorang pemandu sorak. Dia sempat kabur dari penjara serta membunuh dua orang lainnya sebelum ditangkap lagi.  jss

 

Related Articles