PaluPos.Com

Berita

 Breaking News
  • Belanda Mendadak Setop Pakai Facebook, Ini Alasannya Pemerintah Belanda mengumumkan pihaknya tidak akan menggunakan Facebook lagi di masa depan. Mereka beralasan tujuannya untuk keamanan masyarakatnya. Sebelumnya, Kementerian Dalam Negeri setempat pernah meminta Otoritas Perlindungan Data Belanda (DPA)...
  • Produk Tembakau yang Dipanaskan Minim Digunakan oleh Remaja di Negara-negara Maju Penggunaan produk tembakau alternatif oleh remaja di bawah usia 18 tahun menjadi keprihatinan para pemangku kepentingan. Ternyata, ada fakta menarik yang menunjukkan bahwa produk tembakau yang dipanaskan minim digunakan oleh...
  • Ketahui 5 Perbedaan Label Kadaluwarsa Kemasan Makanan Menjelang hari Lebaran, ada berbagai diskon yang digelar gerai-gerai belanja. Salah satu item yang cukup banyak didiskon adalah makanan-makanan dalam kemasan di supermarket. Jangan asal kalap membelinya ya,  Anda perlu...
  • Jangan Pernah Percaya Haji Tanpa Antre Lamanya waktu menunggu untuk bisa melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci membuat sebagian oknum masya-rakat memanfaatkan masalah ini untuk menawarkan haji ce-pat atau tanpa antre. Haji tanpa antre yang ditawarkan tersebut...
  • Kim Jong Un Menggila, Korut Tembak ‘Serangan Balasan Nuklir’ Korea Utara (Korut) kembali mencari perhatian dunia. Di tengah perang yang berkecambuk di Rusia dan Ukraina serta memenasnya Timur Tengah karena serangan Israel ke Gaza dan konflik Israel-Iran, Pyongyang melakukan...

Jika Rusia Tarik Pasukan dari Ukraina, Inggris Pastikan Cabut Sanksi

Jika Rusia Tarik Pasukan dari Ukraina, Inggris Pastikan Cabut Sanksi
Maret 27
23:28 2022

PALUPOS.COM – Menteri Luar Negeri Inggris Liz Truss menekankan pihaknya bisa saja mencabut sanksi atas Rusia berkaitan dengan invasinya ke Ukraina. Namun dengan syarat pihak Rusia harus melakukan gencatan senjata dan menarik pasukannya dari Ukraina.

Seperti dilansir AFP, Minggu (27/3/2022), Truss menyebut pihak Rusia juga harus setuju untuk “tidak melakukan agresi lebih lanjut” terhadap Ukraina agar sanksi Inggris yang dikenakan pada ratusan orang dan entitas tetap dilonggarkan.

Sampai saat ini, pihak Inggris dilaporkan telah memberikan sanksi kepada lebih dari 1.000 individu dan bisnis Rusia dan Belarusia dalam beberapa pekan terakhir. Sanksi terakhir diumumkan hanya dua hari yang lalu.

“Sanksi seharusnya hanya datang dengan gencatan senjata dan penarikan penuh, tetapi juga komitmen bahwa tidak akan ada agresi lebih lanjut,” kata Truss kepada Sunday Telegraph.

“Dan juga, ada peluang untuk mendapatkan sanksi snapback jika ada agresi lebih lanjut di masa depan,” lanjutnya.

Diplomat top Inggris tersebut mencatat bahwa Rusia telah menandatangani beberapa perjanjian yang kemudian gagal mereka patuhi. Karena itu lah, dia menilai perlu ada tindakan keras dalam menanggapi sikap Rusia.

“Tentu saja, sanksi adalah pengungkit yang keras. Itu pengungkit nyata yang menurut saya bisa digunakan,” ujarnya.

Komentar tersebut senada dengan pernyataan yang disampaikan baru-baru ini oleh Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken. Blinken menyebut hukuman yang luas terhadap Rusia “tidak dirancang untuk menjadi permanen” dan bisa “hilang” jika Moskow mengubah perilakunya.

Namun, mereka datang ketika ketegangan diplomatik dengan Rusia tumbuh semakin tinggi selama perang sebulan di Ukraina.

Sementara itu, pada hari Sabtu (26/3) kemarin, Presiden AS Joe Biden sempat mencap pemimpin Rusia Vladimir Putin “seorang tukang daging”. Dia juga menyebut Putin “tidak bisa tetap berkuasa”.

Source: detik.com

Related Articles