Iran disebut membuka peluang untuk kembali membuka Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari. Namun, rencana tersebut tidak diberikan tanpa syarat. Teheran meminta Amerika Serikat (AS) terlebih dahulu mengurangi tekanan militer dan menghentikan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Informasi tersebut disampaikan seorang pejabat senior pemerintah Iran kepada Reuters pada Selasa, 22 September 2026. Menurut pejabat tersebut, Iran dapat membuka kembali jalur pelayaran strategis itu dalam waktu satu pekan apabila Washington mengambil langkah untuk meredakan tekanan militer sekaligus mencabut blokade yang diberlakukan terhadap pelabuhan Iran.
Tawaran tersebut muncul ketika ketegangan antara Iran dan AS masih berlangsung. Teheran disebut berusaha menghidupkan kembali jalur diplomasi dengan Washington melalui mediator. Iran juga memanfaatkan momentum Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York untuk berkomunikasi dengan negara-negara yang selama ini terlibat dalam upaya mediasi.
Seorang pejabat senior Iran yang dikutip Kyodo mengatakan proposal pembukaan Selat Hormuz telah disampaikan melalui mediator. Iran disebut siap mengambil langkah tersebut apabila AS terlebih dahulu menunjukkan keseriusan untuk mengurangi tekanan militer.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling strategis dalam konflik Iran dan AS karena jalur tersebut merupakan akses penting bagi perdagangan energi dunia. Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan itu dapat memengaruhi pengiriman minyak mentah, produk minyak bumi, dan gas alam cair ke berbagai negara.
Dampak gangguan tersebut sudah terlihat dari merosotnya aktivitas pelayaran. Data pelacakan kapal yang dikutip Reuters menunjukkan hanya dua kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Senin, 21 September. Jumlah tersebut turun dari 10 kapal sehari sebelumnya dan jauh di bawah rata-rata sekitar 125 kapal komersial besar per hari sebelum konflik meningkat.
Situasi tersebut membuat perkembangan di Selat Hormuz tidak hanya menjadi persoalan antara Iran dan AS. Jalur tersebut memiliki konsekuensi langsung terhadap pasar energi global. Ketika lalu lintas kapal terganggu, pelaku pasar akan memperhitungkan risiko berkurangnya pasokan energi dan meningkatnya biaya pengiriman.
Iran sendiri disebut menginginkan penyelesaian melalui jalur diplomasi. Pejabat Iran yang dikutip Reuters mengatakan delegasi Teheran yang berada di New York memiliki kewenangan untuk menghidupkan kembali pembicaraan dengan Washington. Iran juga meminta AS secara resmi menyatakan keinginan menyelesaikan persoalan melalui jalur diplomatik dan menyepakati kerangka waktu pembicaraan.
Namun, perkembangan mengenai pembukaan Selat Hormuz masih diwarnai perbedaan informasi. Setelah laporan Reuters dan Kyodo mengenai tawaran Iran muncul, kantor berita semi-resmi Iran, Fars, membantah bahwa Teheran telah menawarkan kesepakatan untuk membuka Selat Hormuz sebagai imbalan atas pencabutan blokade AS. Fars menyebut sumber-sumber Iran menyatakan laporan tersebut tidak benar.
Meski demikian, perkembangan berikutnya menunjukkan bahwa Iran memang telah menyampaikan sejumlah persyaratan kepada pihak AS dalam pembicaraan diplomatik. Pada 24 September, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan Teheran telah menjelaskan persyaratan untuk melanjutkan proses diplomasi dengan Washington.
Menurut Baghaei, persyaratan tersebut mencakup pencabutan blokade laut, penghentian agresi AS terhadap Iran, penghentian apa yang disebut Teheran sebagai “terorisme ekonomi”, serta penghentian perang di berbagai front. Iran juga meminta asetnya yang diblokir dibuka kembali dan meminta adanya pengakuan terhadap jalur aman di Selat Hormuz yang sebelumnya telah dikoordinasikan dengan Oman.
Persyaratan tersebut menunjukkan bahwa isu Selat Hormuz berkaitan erat dengan agenda yang lebih luas dalam konflik Iran dan AS. Bagi Teheran, pembukaan kembali jalur pelayaran tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari proses untuk mengurangi ketegangan dan menghidupkan kembali perundingan.
Sebelumnya, Iran juga dilaporkan telah menyampaikan tujuh syarat untuk membuka Selat Hormuz. Laporan pada pertengahan September menyebut jalur tersebut akan tetap ditutup sampai persyaratan yang telah disetujui pejabat tinggi Iran dipenuhi. Namun, rincian lengkap dari tujuh syarat tersebut pada saat itu belum seluruhnya dipublikasikan.
Kondisi ini membuat masa depan Selat Hormuz sangat bergantung pada perkembangan hubungan diplomatik Washington dan Teheran. Jika tekanan militer berkurang dan blokade terhadap pelabuhan Iran dicabut, terdapat peluang bagi pembukaan kembali jalur tersebut berdasarkan proposal yang dilaporkan Reuters dan Kyodo. Sebaliknya, apabila ketegangan kembali meningkat, aktivitas pelayaran di kawasan tersebut berpotensi tetap terganggu.
Amerika Serikat sendiri telah menyatakan terbuka terhadap kemungkinan pembicaraan dengan Iran. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Washington terbuka untuk melakukan pembicaraan di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB apabila pertemuan tersebut berpotensi menghasilkan perkembangan positif.
Namun, belum terdapat kesepakatan final antara kedua negara mengenai pembukaan Selat Hormuz. Pernyataan dari masing-masing pihak juga menunjukkan bahwa masih terdapat perbedaan mengenai langkah yang harus dilakukan terlebih dahulu sebelum proses diplomasi dapat bergerak lebih jauh.
Bagi pasar global, setiap perkembangan mengenai Selat Hormuz akan menjadi perhatian besar. Jalur ini merupakan salah satu rute utama perdagangan energi dunia sehingga perubahan kondisi keamanan di kawasan tersebut dapat segera memengaruhi harga minyak, biaya pengiriman, dan kekhawatiran terhadap ketersediaan pasokan energi.
Kini perhatian tertuju pada apakah Washington bersedia mengambil langkah yang diminta Teheran dan apakah Iran kemudian benar-benar akan membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari seperti yang dilaporkan sejumlah sumber. Kepastian mengenai hal tersebut masih menunggu perkembangan diplomasi antara kedua negara.
